Bangkrut, 7-Eleven Dinilai Terlalu Agresif

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai, penyebab tutupnya seluruh gerai 7-Eleven adalah masalah tata kelola manajemen internal perusahaan dan bukan karena iklim usaha ritel.

“Informasi yang kami dapat, persoalan (bangkrutnya) itu bukan persoalan pasar. Lebih kepada pengelolaan atau pemilik 7-eleven yang terdiri dari berbagai pemegang saham. Itu masalah internal saja,” ujar Airlangga di sela acara halalbihalal di kawasan Senayan, Senin (26/6).

Airlangga menjelaskan, 7-Eleven merupakan perusahaan ritel swasta yang memiliki beberapa pemegang saham. Perusahaan swasta memang lebih berdinamika lantaran perbedaan tata kelola dari tiap-tiap pemegang saham, baik dari sisi rencana bisnis, rencana manajemen, hingga orientasi pasar.

Dari sisi rencana bisnis, Airlangga menilai, bisnis 7-Eleven terbilang agresif di awal masuk pasar Indonesia. Hal ini terlihat dari langsung menjamurnya gerai 7-Eleven. Sayangnya, ekspansi bisnis yang besar tak serta merta membuat pangsa pasar (market share) ikut terdongkrak. Di sisi lain, manajemen yang kurang kuat membuat rencana bisnis bisa saja tak tercapai.

Belum lagi, pengaruh pengelolaan para pemegang saham.

“Pemegang saham bermacam ragam dan mempunyai jadwal waktu yang berbeda untuk mengelola investasi. Jadi menurut saya ini murni kasus swasta saja,” ucapnya.

Airlangga juga menyebut iklim usaha dan pasar di Tanah Air masih mendukung bisnis ritel, kendati mengalami penurunan.

“Pasar memang ada penurunan tetapi mungkin proyeksinya terlalu progresif pada waktu itu. Karena keagresifan itu, karena kan banyak yang masih terus ekspansif dengan pola franchise dan yang lain,” kata mantan politisi Golkar itu.

Airlangga sendiri menilai aturan main pemerintah tak pernah membatasi ruang gerak industri ritel sehingga tak memberatkan pertumbuhan bagi ritel. “Peraturan pemerintah untuk pasar mini market masih terbuka,” katanya.

Tak Mempengaruhi Bisnis Ritel

Airlangga memperkirakan, langkah penutupan seluruh gerai 7-Eleven takkan memberi dampak buruk pada industri ritel Indonesia. Pasalnya, hanya 7-Eleven yang mengalami kebangkrutan.

Hanya saja, kejadian ini, sambung Airlangga membuat pemerintah akan turut menimbang aturan main yang saat ini diberlakukan. Sebab aturan main perlu disesuaikan dengan perkembangan pasar.

Seperti diketahui, 7-Eleven yang berada di bawah PT Modern Internasional Tbk terpaksa menutup seluruh gerainya pada akhir bulan ini.

Direktur Modern Internasional Chandra Wijaya mengatakan, penutupan 7-Eleven lantaran adanya keterbatasan sumber daya yang dimiliki perseroan untuk menunjang kegiatan operasional gerai itu. Hal ini pun terjadi setelah pembatalan akuisisi oleh Chaeroen Phokphand terhadap seluruh usaha waralaba tersebut di Indonesia.

Alhasil, satu per satu gerai 7-Eleven terpaksa gulung tikar sejak tahun lalu. Sejak tahun lalu, tercatat, sebanyak 25 gerai sudah tutup. Sedangkan sampai Maret 2017 lalu, jumlah gerai yang ditutup bertambah 30 gerai.

sumber : CNN Indonesia

Leave a comment

Your email address will not be published.

*