Dua Gerai Ditutup, Bisnis Matahari Mulai Meredup?

Berita mengenai akan ditutupnya dua gerai milik PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) di Pasaraya Manggarai dan Pasaraya Blok M mendapatkan tanggapan dari analis pasar modal.

Hans Kwee, analis dari Investa Saran Mandiri, mengatakan bahwa secara industri, saat ini pelaku industri ritel memang mendapatkan tantangan yang sangat berat dari berbagai sisi, yakni dari sesama pemain industri ritel, dari pelaku industri ritel online, serta dari sisi gaya hidup masyarakat.

Menurut Hans, berkembangnya gerai ritel online ini sesuai dengan demand masyarakat yang menginginkan pembelian produk barang dan jasa yang cepat dan hemat waktu. Sehingga situs belanja online lebih ramai ketimbang gerai-gerai ritel.

Tidak hanya hanya itu, pola pikir masyarakat yang lebih suka berbelanja online juga berkaitan dengan semakin selektifnya masyarakat dalam membelanjakan uangnya.

Hal ini kemungkinan terkait dengan agresifnya pihak Direktorat Jenderal Pajak menyasar mereka yang terlihat memiliki uang berlebih untuk berbelanja barang.

“Masyarakat saat ini lebih suka menabung ketimbang berbelanja. Tengok saja Dana Pihak Ketiga (DPK) DPK perbankan di semester I yang meningkat signifikan,” kaya Hans kepada Kompas.com.

Kemudian, dari sisi industri ritel sendiri saat ini bersaing sangat ketat. Misalnya saja Matahari harus bersaing dengan Seibu, Lotte dan sebagainya. Diskon besar pun terkadang tidak lantas membuat masyarakat tertarik untuk berbelanja.

Hans mengatakan, kabar akan ditutupnya gerai Matahari sebenarnya sudah diutarakan pihak manajemen sekitar 2 bulan lalu. menurut Matahari, satu gerainya mereka mengelola sekitar 500 karyawan.

“Jika nantinya mereka akan bergerak seperti Alibaba, fokus ke ritel online dan hanya menyisakan sejumlah gerai offline yang menguntungkan, akan terjadi PHK besar,” lanjut Hans.

Tetapi untuk saat ini, kemungkinan belum akan terjadi PHK besar di Matahari sebab kebanyakan isi departemen store ini adalah pegawai para tenant-nya.

“Mau tidak mau mereka (Matahari) pasti akan melakukan transformasi dan mencari bentuk baru, seperti halnya industri media yang kini beralih ke dotcom,” lanjutnya.

Saat ini, Matahari memang memiliki format online yakni MatahariMall.com, namun gaungnya memang belum sebesar situs e-commerce lain. Menurut Hans, di industri ritel dotcom, berbeda dengan industri ritel dotcom atau e-commerce.

Sebab biasanya mereka yang memiliki pendanaan besar akan jauh meninggalkan lawannya.

Valuasi Saham

Bagaimana valuasi saham Matahari ke depan? Masih layakkah untuk dikoleksi?

Hans mengatakan bahwa untuk mengoleksi saham LPPF, maka investor perlu cermat melihat jangka panjang industri ini ke depannya, dan melihat masifnya gempuran dotcom.

Sebagai informasi pada penutupan perdagangan saham akhir pekan pukul 16.00 WIB, Jumat (15/9/2017), saham LPPF naik 4,88 persen ke level 10.200.

Namun jika dilihat selama 1 tahun terakhir, berdasarkan dataBloomberg, return LPPF sudah tergerus 43,32 persen.

Sister company-nya, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) yang mengoperasikan gerai Hypermart pada Jumat ini juga ditutup naik 1,72 persen ke level 590. Namun jika disetahunkan, return MPPA tergerus 65,70 persen.

Induk usaha dua LPPF dan MPPA, yakni PT Multipolar Tbk (MLPL) ditutup turun 0,57 persen ke level 175 pada Jumat ini. Namun jika disetahunkan return perseroan tergerus 57,95 persen.

Sumber : http://ekonomi.kompas.com/

Leave a comment

Your email address will not be published.

*