Berkah untuk minimarket di tengah pandemi Covid-19

Pembatasan aktivitas sosial selama pandemi Covid-19 berdampak terhadap berbagai lini usaha dan perekonomian. Salah satu sektor usaha yang paling terdampak adalah bisnis ritel.

Tidak semua peritel mengalami kerugian atau terpuruk akibat Covid-19. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan DBS Group, bisnis supermarket dan minimarket menjadi segmen ritel paling diuntungkan selama pandemi Covid-19, dan pelaksanaan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB).

Keuntungan diraih karena saat pusat perbelanjaan modern dan banyak pertokoan harus tutup selama PSBB, supermarket dan minimarket tetap bisa beroperasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Keberadaan dua jenis toko ritel ini juga menjawab kebutuhan warga yang tak bisa ke pasar tradisional lantaran PSBB atau takut tertular Covid-19.

Berdasarkan data DBS Group, hingga 2019 mayoritas warga Indonesia masih lebih memilih berbelanja di pasar tradisional (70 persen) ketimbang minimarket atau supermarket. Hanya ada 23 persen warga yang memilih belanja di minimarket, dan 7 persen lainnya ke supermarket.

Akan tetapi, kondisi saat ini dianggap bisa mendorong warga yang tadinya lebih memilih berbelanja di pasar untuk beralih ke supermarket atau minimarket terdekat.

DBS Grup juga memperkirakan, pertumbuhan penjualan barang di minimarket akan tumbuh lebih pesat dibandingkan supermarket maupun pasar tradisional tahun ini.

Alasannya, minimarket unggul dari sisi kenyamanan dan kemudahan akses. Terlebih, sebagian besar minimarket saat ini beroperasi hingga larut malam dilokasi yang strategis (dekat perumahan atau perkampungan).

Hasil riset DBS Grup terkait dampak pandemi Covid-19 dan kebijakan sejumlah negara di ASEAN terhadap kinerja supermarket serta minimarket di kawasan ini, dikutip Jumat (24/4/2020)

Hasil riset DBS Grup terkait dampak pandemi Covid-19 dan kebijakan sejumlah negara di ASEAN terhadap kinerja supermarket serta minimarket di kawasan ini, dikutip Jumat (24/4/2020) DBS Group / Riset DBS Group

Dampak positif pandemi Covid-19 terhadap kinerja minimarket di Indonesia kontras dengan kondisi di sejumlah negara tetangga. Riset yang sama menemukan, tingkat penjualan toko-toko ritel kecil sejenis minimarket di Singapura, Thailand, dan Malaysia tidak terdongkrak sebesar di Indonesia.

Pada pertengahan Maret lalu, Anggota Dewan Penasihat Hippindo Tutum Rahanta pernah menyebut bahwa keramaian di supermarket atau minimarket kemungkinan tetap terjadi di tengah pandemi Covid-19. Dia meyakini banyak masyarakat berkunjung ke toserba demi membeli kebutuhan pokok, dan penunjang kegiatan di rumah.

“Tetapi orang pergi karena kebutuhan (memenuhi bahan pangan) ke supermarket, di luar itu mereka tak mau berlama-lama,” ujar Tutum.

Kenaikan penjualan

Hasil riset DBS dan “ramalan” Tutum bulan lalu diakui Marketing Director Indomarco Prismatama, Wiwiek Yusuf. Petinggi Indomaret ini menyebut, selama pandemi Covid-19 tren penjualan perusahaannya naik cukup signifikan.

“Secara total kami naik sekitar 7 persen sampai 10 persen,” ujar Wiwiek kepadaLokadata.id.

Wiwiek menduga kenaikan ini dipengaruhi besar oleh kebijakan PSBB yang telah diterapkan di berbagai kota. Karena PSBB, minimarket macam Indomaret menjadi alternatif tempat belanja, apalagi bagi toko-toko yang berada di area perumahan.

Meski begitu, menurutnya lokasi tidak serta merta menjadi sebab utama terjadinya peningkatan penjualan pada saat pandemi. Buktinya, tren penjualan Indomaret melalui layanan pesan-antar juga meningkat.

Wiwiek enggan merinci berapa peningkatan penjualan barang melallui layanan pesan-antar. Dia hanya menyebut, kenaikan penjualan signifikan sejauh ini terjadi di kota-kota besar seperti DKI Jakarta dan sekitarnya.

“Kalau penjualan banyak faktor yang mempengaruhi. Antara lain pandemi Covid-19, daya beli, dan masa puasa,” ujarnya.

Tanggapan lain datang dari Corporate Affairs Director Alfamart, Solihin. Dia mengatakan, sejauh ini belum ada peningkatan signifikan pada penjualan Alfamart selama pandemi.

“Normal saja. Dalam artian peningkatan secara nasional hanya 2 sampai 3 persen saja,” ujar Solihin kepada Lokadata.id.

Menurut Solihin, sejak pandemi Covid-19 terjadi ada sejumlah produk yang banyak dicari konsumen. Produk-produk ini contohnya beras, minyak, gula, vitamin, dan hand sanitizer. Dia memprediksi peningkatan penjualan justru baru akan terasa akhir bulan ini. Perkiraan ini bertepatan dengan tibanya bulan Ramadan, dan mendekatnya peringatan Hari Raya Idulfitri akhir Mei mendatang.

“Kalau rata-rata kontribusi penjualan per bulan (terhadap total penjualan per tahun) 8,2 persen, nah di bulan Ramadan dan Lebaran bisa lebih dari rata-rata itu, bisa sekitar 12 persen,” tuturnya.

sumber: lokadata.id